Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Om Tryambhakam Yajamahe, Sugandhim Pushtivardhanam, Urvarukamiva Bandhanan, Mrityor Mukshiya Ma amritat.”

Om Sembah Sujud kepada Dewa Siwa yang bermata tiga, Yang mengayomi dan menebarkan keharuman pada kehidupan kita. Semoga Beliau membebaskan kita dari penderitaan, dan kegelapan menuju cahaya abadi.

Hari ini adalah sehari sebelum Tilem sasih Kepitu (Prawaning), dimana umat Hindu di Bali pada malam harinya memperingati Hari Raya Siwaratri. Dari cerita-cerita dalam agama Hindu malam sehari sebelum Tilem Kepitu merupakan malam paling gelap dari seluruh malam dalam setahun ini (Penanggalan Caka), dimana diyakini Dewa Siwa akan melakukan Yoga Semadi untuk keselamatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya.

Ada juga cerita di masyarakat Bali  bahwa Malam Siwaratri dikenal sebagai malam peleburan dosa. Benarkah hal itu? Benarkah dosa yang kita perbuat bisa dilebur dengan hanya begadang pada malam Siwalatri seperti dalam ceritra Sang Pemburu Lubdaka? Kalau tidak terus apa sih sebenarnya makna dari perayaan Siwaratri? Bagaimana cara pelaksanaan Siwaratri ini?

Itulah sekelumit pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya mengenai Hari Raya Siwaratri , dan mungkin banyak teman juga yang juga seperti itu. Dari pertanyaan tersebut akhirnya saya browsing di internet dan menemukan artikel yang membahas tentang Siwaratri yang sumbernya pun sangat dapat dipercaya karena merupakan seorang Pendeta sekaligus tokoh agama Hindu yang terkenal sering memberi Dharma Wacana yaitu Ida Peranda Made Gunung. Mudah-mudahan artikel ini bisa menambah pengetahuan kita tentang Hindu pada umunya dan hari raya Siwaratri pada khususnya. Selamat membaca!

Sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering di sebut prawaning tilem kapitu, umat hindu memperingati Hari Siwaratri. Jika di urut dari asal katanya, Siwa itu dapat diartikan sebagai Penghancur Kegelapan sebagai simbolis Cahaya/Terang dan Ratri itu dapat diartikan gelap. Sehingga Siwaratri dapat diartkan bahwa yang Terang telah menjadi gelap dan yang gelap menjadi terang kembali.

Pedanda menggunakan ilustrasi tersebut untuk menggambarkan kondisi perjalanan kita sebagai manusia. Dalam diri manuasia bersemayam Tuhan beserta sifat – sifat Ketuhanan, namun seiring perjalanan hidup, kegelapan dan ilusi duniawi membuat manuasia semakin lupa akan asal dan jati diri.

Dalam Siwaratri Kalpa dijelaskan bahwa bagaimana Sang Hyang Atma kelangen, begitu terpesonanya dengan segala kenikmatan yang diperoleh dari panca indria walaupun semua keindahan dan kenikmatan tersebut bersifat semu dan palsu. Semakin hari pikiran semakin memberi ruang gerak yang semakin leluasa kepada panca indria, sehingga akhirnya jiwa menjadi dikendalikan oleh panca indria. Mata selalu ingin melihat sesuatu yang bagus, senang melihat wanita cantik atau lelaki tampan. Hidung selalu mencari bau yang harum, lidah selalu ingin makan makanan enak, telinga selalu ingin mendengar suara yang merdu, dan kulitpun selalu ingin sentuhan lembut. Karena begitu hebatnya pengaruh kenikmatan duniawi sehingga akhirnya sang jiwa terbelenggu dalam kesibukan untuk selalu mengejar keinginan panca indria sampai lupa akan asal dan jati diri sebagai manuasia.

Kenapa Siwaratri dilaksanakan pada Prawaning Tilem Kepitu?

Jika ada yang bertanya, kenapa Siwaratri dirayakan pada prawaning tilem kapitu? kenapa bukan sasih yang lain? Prawaning Tilem atau sehari sebelum tilem merupakan malam yang paling gelap dan sasih kepitu merupakan lambang sapta timira, jadi Ida Mpu Kuturan memilih Prawaning Tilem Kepitu sebagai hari perayaan Siwaratri untuk mengingatkan kita bahwa kita yang berasal dari Tuhan (siwa) telah masuk kejurang kegelapan (ratri) karena pengaruh tujuh sifat kemabukan (pitu).

Sifat Ketuhanan beserta segala kemampuan luar biasa yang menyertainya yang ada pada diri manusia semakin hari semakin dalam terkubur karena manusia telah lupa diri, manusia telah dirasuki sapta timira, tujuh kegelapan atau sifat kemabukan yaitu Surupa yang mana manusia mabuk akan rupa yang cantik dan tampan, padahal ini sifatnya hanya sementara, sekarang cantik maka lima atau sepuluh tahun lagi semua itu akan hilang, namun sangat banyak yang masih memburu hal tersebut. Dhana yaitu kita yang takabur dan mabuk oleh kekayaan, sekarang ini bisa dikatakan mereka yang punya uang yang berkuasa, namun inipun hanya semu, tidak ada uang yang bisa menjanjikan kebahagiaan. Guna artinya lupa diri karena merasa diri lebih pintar sehingga merendahkan orang lain, namun pengetahuan itu ibarat samudera yang tanpa batas. Kulina adalah orang yang merasa diri lebih tinggi kedudukannya karena faktor keturunan, Yowana yaitu lupa diri karena masa remaja, Kasuran yaitu sifat sombong karena mabuk kemenangan dan Sura karena mabuk minumam keras. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa karena pengaruh ikatan duniawi yang kuat manusia telah melupakan asal muasalnya. Karena kuatnya keinginan duniawi maka manusia akan menemuai klesa yaitu kekotoran, menuju ke papa yaitu kegelapan jiwa dan pikiran yang pada akhirya akan bermuara kepada dosa.

Siwaratri merupakan momentum bagi kita untuk introspeksi diri, bertanya dalam keheningan jiwa, “betulkan saya adalah percikan sinar suci tuhan?” jika betul apakah sifat dan perilaku kita sudah mencerminkan hal tersebut?. Malam Siwaratri hendaknya dijadikan sebuah momentum untuk merenung alias introspeksi diri karena sangat jarang kita punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Saat Siwaratri hendaknya kita sadari semua kekeliruan dan kebodohan kita sebagai manusia dan jadikan itu sebagai sebuah bara semangat untuk memulai kehidupan yang lebih baik sehingga terang yang telah menjadi gelap bisa kembali bersinar terang.

Siwaratri dan Penebusan Dosa

Banyak yang beranggapan bahwa Siwaratri adalah malam peleburan dosa, anggapan ini muncul mungkin karena pemahaman yang kurang tepat tentang cerita sang lubdaka yang katanya adalah pembunuh namun terbebas dari dosa karena bergadang saat malam Siwaratri.  Dalam ajaran Hindu tidak ada peleburan dosa, dosa adalah hasil perbuatan (karma) yang harus tetap ditebus oleh akibat (phala). Dalam Siwarati umat manusia berusaha untuk sadar kembali tentang jati dirinya sehingga terhindar dari papa (kegelapan pikiran dan jiwa) seperti yang tertuang dalam puja tri sandyaOm papo’ham papakarmaham papatma papasambhavah”  yang pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari segala perbuatan dosa.

Sang Lubdaka  Seorang Pembunuh Binatang

Banyak yang bertanya, bukankah membunuh itu dosa? Dalam ajaran Agama Hindu khususnya di Bali, memang diperbolehkan membunuh binatang. Hal ini termuat dalam lontar Werthi Sesana. Ada dua hal yang diperbolehkan dalam membunuh binatang, yang pertama untuk upacara yadnya dan yang kedua untuk di makan alias dikonsumsi. Jika kita membandingkan dengan cerita Lubdaka, dalam sastra disebutkan bahwa Sang Lubdaka tersebut melakukan pembunuhan binatang hanya untuk dimakan, tidak untuk upacara yadnya. Dalam Bhagawadgita disebutkan bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan, sehingga apapun yang kita makan harus kita persembahkan terlebih dahulu, jika makan tanpa persembahan maka itu sama artinya dengan kita mencuri dan itu adalah dosa. Dalam cerita dikatakan bahwa Sang Lubdaka berburu binatang tanpa melakukan persembahan, hanya mengutamakan nafsu untuk makan saja, sehingga Sang Lubdaka telah melakukan perbuatan mencuri. Oleh karena itu, umat Hindhu khususnya di Bali selalu diharuskan melakukan persembahan berupa yadnya sesa sebelum makan. Dalam sastra Hindu, banyak tatwa – tatwa yang terkandung dalam cerita yang dijadikan tuntunan dalam menjalankan kehidupan, namun demikian cerita atau tatwa tersebut harus di telaah dan dipahami lebih dalam sehingga maksud atau inti dari cerita itu dapat kita petik.

Dalam cerita Lubdaka dikatakan bahwa Lubdaka adalah seorang pembunuh binatang namun saat bergadang pada malam Siwaratri sang Lubdaka mendapat sebuah pencerahan dari Tuhan. Sang Lubdaka sebagai pembunuh binatang, hal dapat kita artikan sebagai seseorang yang telah mampu membunuh sifat – sifat kebinatangannya, sehingga saat dia sadar (terjaga / tidak tidur) akan hakikatnya sebagai Siwa (setiap manuasia bersumber dari Tuhan / Siwa) yang telah diliputi maya dan kegelapan (ratri) maka saat itulah kesadaran akan kesejatian sebagai seorang manusia mulai bersinar.

Dalam cerita para penglingsir kita, Lubdaka juga diartikan sebagai Lud (melepaskan) dan Daki (kekotoran). Jadi Siwaratri merupakan sebuah momentum guna menyadarkan diri akan hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya mempunyai sifat-sifat Tuhan (Siwa). Dan hendaknya kesadaran tersebut tidak hanya pada Hari Raya Siwaratri saja, tetapi setiap hari kita harus terjaga dan sadar.

Pelaksanaan Siwaratri

Pelaksanaan Hari Raya Siwaratri intinya lebih dipusatkan kedalam diri sehingga lebih ditekankan pada pelaksanaan brata dan tapa melalui kontemplasi atau merenung untuk melihat ke diri sendiri. Dalam Agama Hindu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama dalam melakukan upacara atau yadnya yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula tingkatan brata dalam melaksanakan Siwaratri. Ada tiga jenis brata Siwaratri, Upayasa (puasa) yaitu brata tidak makan dan minum, Monabrata yaitu puasa tidak berbicara dan Jagra yaitu tidak tidur. Dalam tingkatan nista Upayasa dilaksanakan selama 12 jam yaitu mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi keesokan harinya. Tingkat Madya dilaksanakan selama 24 jam yaitu dari pagi hingga pagi keesokan harinya, dan tingkat Utama dilaksanakan selama 36 jam yaitu dari pagi hingga sore keesokan harinya.  Begitupun tingkatan bratanya, tingkat nista hanya jagra, tingkat madya upayasa dan jagra, dan utama melaksanakan ketiganya.

Mengawali hari raya Siwaratri sebaiknya dimulai dengan melukat dan bersembahyang di pagi harinya, lalu jalankan brata sesuai kemampuan dan malamnya lakukan perenungan akan hakikat dan jati diri kita sebagai manusia. Sehingga nantinya kita yang diliputi kegelapan pikiran dan jiwa bisa sadar dan kembali menjadi terang.

Selamat Merayakan Hari Siwaratri.

Semoga Dewa Siwa Selalu memberkati kita dari kegelapan menuju cahaya terang.

Sumber artikel : http://idapedandagunung.com/content/view/66/37/

About these ads