Tag

, , , , , , , , , ,

Mungkin kita pernah duduk termenung dan bertanya pada diri kita sendiri, ” Apa tujuan saya hidup di dunia ini? Apakah yang menjadi passion (ada yg menyebut dengan panggilan hidup, lentera jiwa) saya? Mau kemanakah saya akan melangkah nanti?
Itulah beberapa pertanyaan mendasar yang kita hadapi. Dan saya disini bukan dalam posisi untuk menjawabnya. Yang bisa saya berikan dalam artikel ini hanya pendapat, mungkin jauh berbeda dari respon yang diharapkan.

Are Your Goals Yours?

Mungkin kita sering mendengar bahwa “Your purpose is your own”. Kebahagian setiap orang itu berbeda beda tergantung dari ukuran “bahagia” setiap orang dan tidak seorangpun yang bisa memaksakan ukuran “bahagia & sukses” dirinya dengan ukuran “bahagia dan sukses” orang lain dan mengharapkan bisa ikut bahagia dan sukses.

Kesulitan muncul pada titik ini, karena reaksi alamiah kita : ” Tentu saja saya akan mengejar passion saya sendiri” Tetapi benarkah kita begitu?

Darimanakah ide tentang sukses kita muncul? Dari orang tua, atau mungkin dari media atau mungkin dari masyarakat yang menganggap : Kaya, Tampan, Cantik, Terkenal itu adalah sebuah kesuksesan? Apakah ini benar- benar tujuan anda? Darimana pemikiran tentang sukses itu muncul? Apakah kita benar benar yakin dengan memiliki hal diatas maka bisa membuat kita bahagia? Saya tidak bisa menjawab Ya atau Tidak, Saya hanya bertanya. Dan memang hal itu memungkinkan membuat kita bahagia.

Goal Internal

Mengapa saya menyebutkan “bahagia” dan “sukses” sebagai kesatuan? Tujuan sebenarnya dari apa yang kita inginkan sering merupakan goal internal, dan seringkali goal internal ini adalah sederhana yaitu menjadi “bahagia”. Jika anda tidak percaya saya, cobalah dengan contoh sederhana: Lihat pada goal eksternal yang ingin anda capai dan kemudian telusuri lebih lanjut.

Salah satu contohnya : Anda Ingin mendapat pekerjaan yang baru. Coba anda tanya pada diri anda sendiri, kenapa ? Alasannya mungkin untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi, atau untuk menjadi pegawai yang lebih baik. Lalu apa? Lingkungan kerja yang lebih nyaman atau untuk mendapat waktu luang yang lebih banyak. Lalu apa? Apa yang anda dapatkan? Dan teruskan proses bertanya sampai anda tidak bisa mendapat jawaban lagi. Dan selalu anda akan menemukan apa yang tersisa merupakan goal internal anda.

Salah satu cerita favorit saya mungkin anda sudah pernah tahu sebelumnya. Diceritakan pada suatu hari seorang pebisnis dari kota yang kaya raya pergi berlibur ke pantai di suatu pulau terpencil. Pada suatu hari dia berjalan dipantai dan melewati seseorang nelayan lokal sedang mencari ikan duduk berbaring santai sambil menunggu pancingnya, dia menikmati botol minuman ditangannya sambil berjemur dibawah sinar matahari sambil sesekali melihat apakah ada ikan yang menarik pancingnya.

Melihat hal tersebut, mulailah bergolak dalam pikiran pebisnis ini bahwa ikan dilaut ini merupakan potensi yang bagus untuk bisnis. Pebisnis ini kemudian menghampiri nelayan tadi dan berkata : “Kenapa kamu bodoh sekali. Beli beberapa perahu mesin, sewa beberapa orang untuk menangkap lebih banyak ikan dilaut dengan jaring yang besar dan dalam beberapa tahun kamu akan menjadi kaya dan memiliki uang yang banyak dari bisnis itu.

Nelayan lokal itu kemudian balik bertanya. “Dan memang kenapa kalo saya punya uang banyak?

Pebisnis dari kota itu menjawab dengan nada keras. ” Kenapa?? dan dengan yakinnya dia menjawab. “Jika kamu punya banyak uang maka kamu tidak perlu lagi setiap hari memancing mencari ikan untuk makan. Kamu akan punya banyak waktu luang dan bisa duduk santai berjemur menikmati sinar matahari setiap hari sambil minum beer!”

dan dengan tersenyum nelayan lokal itu kemudian menjawab, ” Mengapa saya harus menunggu punya uang jutaan dulu untuk menikmati waktu bersantai menikmati berjemur sinar matahari kalo dengan sekarang pun saya sudah bisa menikmatinya”

Mendengar jawaban dari nelayan lokal itu, sang pebisnis pun pergi dengan muka agak masam.

Dalam cerita ini kita dapat melihat bahwa tujuan menjadi kaya nantinya akan mengarahkan ke tujuan internal sebenarnya yaitu untuk menikmati setiap momen. Mungkin banyak orang yang menentang hal ini. Saya ingat seorang pembicara pada suatu seminar menyatakan bahwa “Sesorang bisa bahagia walaupuan dia tidak kaya”. Banyak yang menentang dengan keras pernyataan itu dan menganggap pernyataan pembicara itu merupakan pernyataan yang bodoh.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memerlukan materi untuk memenuhi kebutuhan dasar kita. Tetapi apabila kita sudah mempunyai materi yang mencukupi. Mempunyai materi yang berlebih tidak ada bedanya juga kan? Jadi mengapa kita menentang atau tersinggung dengan pernyataan diatas. Ato ada sesuatu dalam diri kita yang menentang hal itu?

Mengubah cara mencapai Goal

Dan setelah itu bagimana? Sekali kita melihat tujuan internal kita, cobalah satu hal. Ubahlah cara mencapai goal kita. Pertama kita berusaha mencapai goal internal kita dan ketika kita masih ingin mencapai goal eksternal kita kita akan lebih mudah mencapainya.

Apakah hal ini terdengar familiar? Jika aku punya uang, maka aku akan bisa mandiri. Jika saya menemukan cinta saya, maka rasa percaya diri saya akan lebih tinggi. dst…

Bukankah kebalikan dari urutan goal diatas lebih logis? Tingkatkan rasa percaya dirimu dulu dan lawan jenismu akan tertarik padamu! Kembangkan sikap mandirimu dan kamu akan lebih mudah untuk mendapatkan uang!

Jalan ini akan menjadi lebih mudah dilalui jika kita menyadari bahwa goal internal selalu bisa dicapai apabila kita berusaha dengan kerja keras dan kesungguhan. Goal eksternal ada batasnya yang tidak bisa dicapai, walaupun bagaimana kerasnya kita berusaha mencapainya. Misalnya sesuatu hal yang tidak mungkin orang yang sudah berumur 50 tahun yang sakit sakitan menjadi petinju profesional. Tetapi jika goal internal seseorang misalnya untuk membangun rasa percaya dirinya, tidak masalah berapa usianya, hal itu selalu memungkinkan.

Untuk orang orang yang belum memiliki goal eksternal dalam pikirannya, cobalah untuk mencari goal internalnya. salah satu contohnya bagaimana cara untuk lebih bahagia , dan setelah anda mulai melangkah, anda mungkin akan menemukan goal eksternal akan menampakan dirinya.

Ketidakkekalan Tujuan

Hal ini menjadi lebih penting ketika kita menyadari “tujuan luar” kita adalah tidak kekal. Tujuan luar kita berubah merefleksikan “tujuan dalam” kita. Tujuan itu tidak kekal. Tiada yang abadi. Berhenti mencari sesuatu yang akan kamu lakukan seumur hidupmu, memang mungkin menemukan suatu tujuan sampai akhir tetapi sebagaian besar nantinya hal itu akan berubah sesuai dengan keadaan dalam diri kita dan kebutuhan.

Ketika saya muda, saya menaruh semua energi dan waktu saya untuk olahraga tinju. walaupun mengorbankan pekerjaan dan sekolah saya demi obsesi saya. Tinju merupakan pilihan buat saya, karena saya merasa tidak berbakat dalam bidang lain dan saya tipe orang pendiam dan tidak terlalu suka bergaul. Tetapi ketika saya memikirkan masa itu kembali, memang masuk akal hal itu itu mengisi dari tujuan internal saya. Saya menjadi orang yang lebih kuat, lebih percaya diri. Saya memerlukan pelampiasan untuk kemarahan dan rasa kekecewaan saya. Ketika saya mencapai tujuan itu, obsesi saya dengan tinju perlahan lahan mulai hilang.

Setelah mendalami dan sadar bahwa tujuan itu tidak kekal dan bergantung pada kedamaian dalam hati kita. Hal ini akan merangsang pikiran kita – ketika kita mencari sesuatu untuk mengisi tujuan luar kita, apa yang terjadi ketika hal itu terpenuhi? Salah satu contoh mungkin sunguh mengagumkan bagi anda untuk menjadi orang tua yang terbaik buat anaknya, tetapi apa yang terjadi ketika suatu hari anak anda sudah menjadi dewasa dan harus meninggalkan rumah kita untuk berkeluarga. Apa yang terjadi, sesorang bisa terikat dengan tujuannya, melawan dan menderita. Atau seseorang bisa dengan mudah untuk melepaskan dengan ikhlas dan damai.

Perlunya Action

Secara alamiah, ada waktu buat merencanakan dan berpikir tetapi ada waktu untuk action. Banyak orang yang mencari dan memikirkan berulangkali apa tujuan dari hidupnya dan berhenti sampai pada instropeksi. Mungkin mereka melakukan ini untuk menghindari mengambil resiko, ketakutan untuk meninggalkan zova nyaman, menghindari penolakan, atau ketakutan yang lain. Dan karena hal itulah mereka akan tetep stuck pada hidup yang membosankan.

Terkadang cara yang paling baik untuk menemukan tujuan adalah keluar dari zona nyaman kita dan melakukan action, walaupun kita tidak tahu apa yang kita lakukan.

Tool favorit saya pada keadaan seperti ini adalah pernyataan 5%, dibuat oleh Nathaniel Branden, Seseorang yang dikenal luas sebagai bapak pengembangan diri. Hal ini bekerja dengan mengijinkan kita untuk mengambil langkah kecil untuk maju. Mencoba untuk mengubah semuanya dalam waktu singkat, mungkin akan banyak menimbukan ketakutan, keraguan dan perlawanan.

Pernyataan 5% dibagi menjadi 2 tahap, Contohnya seperti berikut :

Jika saya menjadi 5% lebih bertanggung jawab hari ini, maka saya akan __________
Jika saya menjadi 5% mengurangi malas saya hari ini, maka saya akan _______

Bagian pertama dari statement tidak harus melakukan perubahan. Tetapi apabila setiap bangun pagi kita memikirkan sesuatu yang mengisi bagian yang kosong dari diri kita dan melakukannya. Dan dapat anda lihat 5% adalah kecil dan cukup mudah untuk melawan rasa takut dan sikap penundaan kita. Menjadi cukup fleksibel untuk melakukan hal yang berbeda setiap hari untuk mencapai goal yang sama menjaga kita dari rutinitas yang membosankan. Dan bahkan lebih baik lagi hal ini bisa membuat kita berani untuk memikirkan ide baru untuk mencoba ( walaupun kita bisa melakukan aktivitas 5% lebih baik setiap waktu).

Kita bisa mempergunakan trik 5% untuk semua yang anda rencanakan – mulailah dengan latihan secara rutin, mengurangi sikap menunda-nunda, meningkatkan kinerja kita, bahkan hubungan pribadi kita dengan orang orang terdekat. Dan jika 5% itu terlihat terlalu kecil, jangan khawatir itu akan membuat kita jadi pribadi yang lebih baik secara indah.

Sekali momentum mulai, kadang kesulitan akan muncul untuk menghadang!.

Disadur dan diterjemahkan dari : http://zenhabits.net/passion-and-purpose-in-life