Tag

, , , , , , ,

Tuhan terima kasih, karena Kau telah berikan alam semesta raya yang sempurna beserta Hukumnya yang sempurna, tetap, dan mengikat. Karena itulah aku dapat berkreasi untuk menentukan hidupku sendiri, sebagai Creator kecil

Simbol Alchemy

Simbol Alchemy

Setelah sebelumnya bapak pemberdayaan diri Indonesia Bapak Yan Nurindra, sharing tentang pandangan beliau tentang self image. Kini Pak yan kembali berbaik hati berbagi pandangannya tentang konsep “The Alkhemis”, seorang ahli kimia yg bisa membuat /menemukan ramuan/cara utk mngubah logam biasa menjadi emas, dimana logam biasa dan emas disini bisa diartikan secara simbolis mengubah dari hal2 biasa ataupun yg dilabeli buruk menjadi suatu yg berguna/bermanfaat. Seperti juga salah satu novel favorit saya  “The Alchemist” karya paulo Coelho yg sangat mengispirasi yg reviewnya bisa dilihat di sini.

Saya disini hanya merangkum status pak yan nurindra di FB, sehingga lebih enak dan klo mau nyari lebih gampang, sayangkan ilmu yg bermanfaat gini klo ilang? bonusnya sapa tau trafiic di blog ini jga naik,wkwkkw

semoga bermanfaat…

The Alchemist #1 :

Ketika seseorang mengatakan, “Kenapa saya saya selalu berbuat baik kepada orang lain, kok hidup saya susah terus ?”, “Kenapa saya sudah banyak beramal, kok saya justru sering sial ?”. “Saya sudah bekerja rajin, kok teman saya yang tidak cerdas dan malas justru yang lebih dahulu naik pangkat ?”. Keluhan semacam ini, jika ditanyakan kepada siapapun juga, tidak akan ada jawaban yang memuaskan. Keluhan ini hanya menandakan bahwa kita sudah menempatkan diri kita sebagai OBYEK kehidupan (boleh juga dibaca : korban), bukan SUBYEK kehidupan (boleh dibaca : pelaku aktif).

The Alchemist #2 :

Bandingkan dengan seorang Ahli Kimia yang akan membuat, misal pupuk, ia akan mencampurkan berbagai unsur kimia, dan jika saja gagal, misal justru menjadi zat yang meledak, maka ia dengan enteng akan mengatakan “Oh, ada formulanya salah”. Kemudian ia akan mencoba formula (rumus) baru, dan mungkin saja tidak akan langsung berhasil, tetapi ia akan tetap mengatakan “Ini pasti soal formula yang belum sempurna”. Sang Ahli Kimia ini menempatkan dirinya sebagai SUBYEK yang berkuasa untuk mencampur unsur kimia apapun, dan menyadari hasil apapun yang terjadi, pasti akibat dari formulasi yang dibuatnya

The Alchemist #3 :

Universe (alam semesta raya) selaras dan teratur. Pasti ada hukum yang mengaturnya, dan hukum ini pasti berlapis-lapis dan holistik, ada hukum fisika, dimana berlaku hukum gravitasi bagi suku bangsa apapun juga dan dengan keyakinan apapun juga, berlaku hukum kimia, dimana H2+O akan selalu menjadi air, dan tentu di Universe ini masih banyak hukum yang belum kita pahami, atau sedikit kita pahami secara empiris, tapi yang jelas pasti ada hukum yang mengatur, agar seluruh umat penduduk Universe memperoleh keadilan yang sama, dan dapat mengembangkan pengetahuan. Salah satu hukum Universe, pasti adalah tentang hukum yang mengatur pikiran, mengatur tentang akibat dari kerja pikiran.

Salah satu karunia luar biasa dari Tuhan YME, adalah hukum Universe ini. Karena pasti berlaku tetap, dan dapat dipelajari. Karena hukum Universe ini bersifat tetap, maka Einstein dapat menemukan teori relativitas, Ibnu Sina dapat menemukan dasar-dasar ilmu kedokteran, dll.

Bayangkan jika Tuhan YME bersifat semau-maunya ? Misalkan : hari ini Gravitasi di Jakarta adalah 9.8, dan besok pagi menjadi -2 ?

Kita hanya perlu meyakini, bahwa pikiran-pun juga diikat oleh Hukum yang bersifat tetap. Berpikir A akan mengakibatkan A”, berpikir B akan mengakibatkan B”, dst.

The Alchemist #4 :

Hukum Universe yang sempurna bagaikan “The Alchemy of The Universe” (Alkemia Alam Semesta). Karena itu bagi Sang Alchemist, penciptaan adalah persoalan formulasi unsur-unsur alkemia.

Dan inilah doa utama dari Sang Alchemist :

“Tuhan terima kasih, karena Kau telah berikan alam semesta raya yang sempurna beserta Hukumnya yang sempurna, tetap, dan mengikat. Karena itulah aku dapat berkreasi untuk menentukan hidupku sendiri, sebagai Creator kecil”.

“Tuhan terima kasih, karena Kau berikan kesempatan istimewa kepadaku, yaitu mengalami kelahiran dan kehidupan di dunia ini”.

The Alchemist #5 :

Pertanyaannya, siap tidak kita bergaya hidup sebagai Sang Alchemist ? Percaya bahwa semua hal dapat dicapai cukup dengan mentaati hukum Universe (The Alchemy of The Universe).

Atau, kita masih senang berdoa, dengan harapan mendapat pengecualian dari Tuhan ? [Siapa tahu Tuhan berbelas kasihan terhadap kita]

***

Sang Alchemist sejati hanya memiliki 2 doa :

“Tuhan terima kasih, karena Kau telah berikan alam semesta raya yang sempurna beserta Hukumnya yang sempurna, tetap, dan mengikat. Karena itulah aku dapat berkreasi untuk menentukan hidupku sendiri, sebagai Creator kecil”.

“Tuhan terima kasih, karena Kau berikan kesempatan istimewa kepadaku, yaitu mengalami kelahiran dan kehidupan di dunia ini”.

 The Alchemist #6 :

Sang Alchemist kini menjadi sosok yang sangat sederhana dalam menghadapi kehidupan !

Dia tahu, bahwa keinginan tidaklah terlalu penting [Karena setiap orang nyaris memiliki keinginan yang sama : berlimpah, sehat, bahagia, dsb.].

Dia tahu bahwa yang lebih penting adalah bagaimana mengorganisasikan Mind dengan tepat, dan ia tahu bahwa hal ini akan dapat membawanya kemanapun juga !

Ketika kita sudah menetapkan diri menjadi Sang Alchemist, maka hidup menjadi sangat sederhana. Babak baru pembelajaran akan dimulai.

Sang Alchemist selalu berpikir tentang “pembuktian terbalik”.

Apapun yang dialaminya pada hari ini, ia selalu berkata :

“Hmmm pikiranku yang manakah yang membuat peristiwa ini terjadi ?”

[Dia tidak pernah menyalahkan orang lain, lingkungan, situasi, kondisi, apalagi Tuhan]

***

Perlahan tapi pasti, Sang Alchemist akan memecahkan salah satu misteri yang paling besar, yaitu hukum tentang pikiran.

sumber : FB Yan Nurindra