Tag

, , , , , , , ,

buddha-self-compassion

You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere. You yourself, as much as anybody in the entire universe deserve your love and affection – Buddha

Bayangkan sahabat baik kita saat ini sedang mengalami masalah seperti mengalami kegagalan dalam ujian akademiknya atau mengalami kehilangan keluarga atau orang dekatnya. Sebagai seorang sahabat baik apakah yang akan kita lakukan?

Sebagai seorang sahabat umumnya kita akan menunjukkan empati atas atas kesedihan sahabt kita dan berupaya memnghibur dan memberikan semangat dengan harapan kita bisa meringankan kesedihannya dalam menghadapi masa masa sulit tersebut.

Nah, sekarang bayangkan ketika kita sendiri mendapat nilai jelek dalam ujian, atau mengalami masalah rumah tangga dengan pasangan kita. Apakah kita mensupport diri dan menawarkan belas kasih kita layaknya seorang sahabat kepada diri sendiri atau malah tanpa sadar keluar kata-kata kasar baik secara verbal ataupun dalam pikiran saja begitu bodohnya kita, ceroboh atau menghakimi diri kita bahwa kita orang yg ngga becus karena mengalami masalah atau kegagalan?

Buddha pernah mengatakan “If your compassion does not include yourself it is incomplete“, bahwa ketika cinta dan belas kasih kita belum kita berikan kepada diri kita sendiri maka itu belumlah lengkap. Belas kasih dan cinta kasih kepada diri sendiri ini atau yang dikenal dengan self compassion.

Compassion berasal dari bahasa latin yang artinya “to suffer with” ikut merasakan penderitaan. Self compassion dalam hal ini berarti ketika kita sedang menghadapi penderitaan kita ikut berempati kepada diri kita sendiri dan menawarkan belas kasih kita untuk menolong diri kita sendiri.

Nah, pertanyaannya sekarang bagaimana mengembangkan Self compassion alias berbelas kasih kepada diri sendiri?

Menurut seorang psikolog dari Barat yg meneliti dan mengembangkan tentang self compassion yang bernama Kristin Neff, kita memerlukan tiga komponen utama untuk bisa berbelas kasih kepada diri sendiri yaitu Self kindness, Common Humanity dan mindfulness.

Self Kindness, kita perlu berbaik hati kepada diri sendiri,lebih berusaha untuk mengerti dan memahami diri sendiri. Ketika kita melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan alih-alih menghukum, menghakimi diri sendiri, kita hendaknya menawarkan kebaikan hati layaknya seorang sahabat baik bagi diri kita ketika sedang mengalami penderitaan karena kegagalan atau sebab yang lainnya. Karena ketika kita menghukum, mengatakan kata-kata kasar, menyalahkan diri sendiri maka hal ini akan malah membuat kita benci kepada diri sendiri dan kemudian merasa terasing dengan diri kita sendiri. Hal inilah yang nantinya melahirkan berbagai fenomena stress, depresi, penyakit mental dan bahkan bisa bunuh diri.

Common Humanity, kita menyadari bahwa kita sama sama sebagai manusia yang tidak bisa terhindar dari penderitaan. Kita manusia tidak ada yang sempurna dan pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan. Jadi ketika melakukan kesalahan atau gagal mencapai target atau goal kita, kita berusaha untuk mengerti  bahwa kita tidak sendiri menderita atau gagal, bahwa kita juga punya kekurangan seperti yang lainnya. Dan di lain waktu kita bisa berupaya lebih baik lagi menghadapi masalah/tantangan tersebut. Dengan merasa bahwa kita tidak sendiri mengalami kegagalan atau membuat kesalahan kita tidak merasa terpisah atau terisolasi, kita merasa bahwa orang lainpun pernah mengalami hal yang serupa. Kita merasa lebih terhubung dengan orang lain dan lingkungan kita.

Mindfulness, kita memerlukan kesadaran dalam setiap momen. Kesadaran dalam mengalami setiap pengalaman tanpa perlu untuk menghindari, menolak ataupun melebih-lebihkan penderitaan tersebut. Pkiran manusia secara insting akan tanggap terhadap berbagai ancaman/bahaya yang dikendalikan oleh otak reptil (amygdala). Respon dari otak reptil ini yaitu fight-flight atau freeze alias lawan, lari atau diam. Respon otak reptil ini berfungsi untuk memastikan kita untuk tetap survive dalam evolusi, tetapi ketika menyangkut tentang emosi respon otak reptil ini tidak efektif bahkan merugikan diri kita sendiri. Tidak seperti bahaya fisik, emosi adalah sebentuk energi dimana sesuai dengan hukum kekekalan energi bahwa energi itu tidak bisa dimusnahkan tetapi bisa ditransformasikan menjadi bentuk energi lain. Contoh emosi negatif seperti kemarahan, kekhawatiran dan kebencian,dan lainnya, dan ketika kita bereaksi terhadap emosi negatif dengan cara menolak, melawan, menekan atau menghindari bahwa kita mengalami  emosi tersebut maka energi emosi  tersebut sesuai dengan energi penolakan yang kita berikan dan tentunya penderitaan yang kita rasakan akan semakin bertambah. Bayangkan saja energi negatif tersebut seperti gas dalam balon udara, ketika balonnya kita tekan dengan keras maka tak terhindarkan lagi makan gas dalam balon tersebut akan melawan tekanan yang ada dan ketika balonnya tidak kuat maka balonnya akan meledak. Ketika kekhawatiran ditekan maka dia bisa menjadi kepanikan. Ketika kemarahan, kebencian ditekan atau dilawan dia bisa menjadi amukan, stress bahkan depresi. Ketika kita mengalami insomnia atau tidak bisa tidur dengan melawan atau memaksa untuk mencoba tidur kita malah makin melek. Jadi sebaiknya bagaimana respon kita ketika mengalami emosi negatif ini? Para guru meditasi dan psikolog menyarankan agar kita cukup menyadari (mindfulness) bahwa energi negatif seperti kemarahan, kebencian atau kekhawatiran itu ada di sana, sadari setiap momennya. Bayangkan emosi negatif itu seperti awan-awan dilangit yang datang dan pergi. Emosi negatif itu saat ini ada disini dan inipun akan berlalu dan kita tidaklah sendiri mengalami emosi negatif ini melainkan setiap orang mengalami berbagai penderitaan dalam hidupnya mungkin hanya berbeda bentuk dan waktunya (common humanity) . Dan ketika mengalami penderitaan karena emosi negatif tersebut, kita memeluk kesedihan, kemarahan,penderitaan dengan dekapan kasih sayang layaknya seorang ibu yang memeluk anaknya yang sedang menangis untuk menenangkannya (self kindness). Seorang guru meditasi dari Bali dengan sangat indah memberi mantra untuk merespon berbagai emosi negatif, “Terima Mengalir Senyum”.  Terima dan sadari  setiap momen tanpa perlu menolak,melawan atau menekannya. Amati dan biarkan dia mengalir seperti awan-awan yang akan berlalu. Dan peluk lembut dengan senyuman kasih sayang. Dengan ini malahan kesedihan dan penderitaan bisa membukakan pintu kasih sayang kepada diri kita.

Misalkan ketika kita mendapat nilai yang jelek dalam ujian dikampus. Alih – alih mengatakan “dasar bodoh, tolol, ngga becus, masa ujian dengan soal segitu saja saya tidak bisa” dan berbagai kata kata yang malah membuat kita benci kepada diri sendiri. Dan coba bandingkan bagaimanakah rasanya ketika kita coba berbelas kasih kepada diri kita dengan mengatakan “Okay sayangku/nama yg kita pakai untuk memanggil diri sendiri. Aku tahu saat ini marah/sedih/kecewa karena belum mendapat nilai yang kau harapkan dan pasti tidak menyenangkan bagi dirimu ( mindfulness). Dan kaupun tahu bahwa bukan saja kamu sendiri yang mendapat nilai kurang bagus dan mengalami penderitaan karenanya, tetapi teman teman dan orang lain juga mengalami/pernah mengalaminya. Dan kita sebagai manusia punya kelemahan/kekurangan dan tidak selalu kita bisa mendapatkan apa yang kita harapkan (common humanity).  Dan untuk selanjutnya ayo kita berusaha mempersiapkan lebih baik sehingga nantinya mendapat nilai yang lebih baik sambil membayangkan kita memberikan pelukan terhangat pada diri kita ( self kindness)”.

Dari contoh diatas saya yakin ketika kita memberikan belas kasih kepada diri kita seperti contoh kedua, kita akan lebih mudah melewati berbagai masalah atau tantangan dalam hidup ini.

Dengan berbelas kasih kepada diri sendiri atau self compassion maka bayangkan diri kita selalu merasa aman, nyaman dan damai karena ditemani oleh sahabat terbaik kita. Dalam 7×24 jam sahabat terbaik kita selalu ada disamping kita menawarkan kebaikan dan belas kasihnya kepada kita. Sahabat yang mengerti dengansegala penderitaan kita dan sahabat yang ikut merasakan apa yang kita rasakan. Dan sahabat itu adalah diri kita sendiri.

Jadi bersediakah anda memberikan hadiah terbaik bagi diri sendiri yaitu sahabat yang bernama self compassion?