Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Berikut adalah tulisan saya di FB yang saya poting yang lumayan banyak menarik minat dibuktikan dengan jumlah like dan share yang lumayan banyak. Tulisan ini  membahas tentang Upacara Ngaben dan penggunaan Tirtha (air suci) yang ternyata membawa pesan simbolis tertentu. Saya menyalin status saya itu di blog ini dengan harapan bisa lebih mudah dan gampang diakses dan semoga juga bisa menjangkau lebih banyak orang. Semoga Bermanfaat.

Upacara pembakaran mayat dibali dikenal dgn nama upacara ngaben berasal dari kata ngabuin (membuat jadi abu) yg bertujuan utk mempercepat proses pengembalian panca mahabutha, yaitu unsur-unsur pembentuk tubuh fisik kita yang terdiri dari  tanah (pertiwi) ,air (apah), api (teja), udara/angin (bayu),dan ether (akasha).

bade

Sebelum mayat dibakar biasanya diperciki bbrp tirtha (air suci yg sdh didoakan) antara lain tirtha penembak, pengentas, dan tirtha siwa dan buddha.

Sering bertanya2 di dalam hati, “kenapa sblm mayat dibakar diperciki tirtha2 tersebut”?

Dari hasil beberapa tulisan yang saya sempat baca, saya menemukan penjelasan sbb:

Pengabenan umat Hindu menggunakan filosofi yang diambil dari Gugurnya Resi Bisma dalam perang Berathayudha ditengah Kuru Setra.

Air untuk membersihkan badan diminta kepada Duryudana, diberikan menggunakan tempayan emas, tapi ditolak, sebagi simbol penolakan segala gemerlap duniawi. Arjuna menggunakan dua panah dipanahkan keatas kmd panah pertama jatuh diatas kepala Resi Bisma, dan panah yang satunya lagi jatuh di kaki. Oleh karena itu pembersihan harus dimulai dari kepala. Dari sini diambil filosofi Toya Penembak yang diambil dari Campuhan pada tengah malam tanpa lampu (gelap) dan diambil oleh sanak keluarga. Maknanya sebagai sarana pemrelina mantuk maring Sangkan Paran (Ah … Ang) dan untuk menetralisir awidyanya sang lampus. Toya Penembak: pe = pemutus; nembak = pembuka jalan. Tirta Penembak: untuk memutuskan agar terbentuk jalan ke Sunya Mertha.

Menjelang menghembuskan nafas terakhir Rsi Bisma berpesan kepada Arjuna agar jasadnya dibakar menggunakan senjata Geni Astra yang disimbulkan sebaga tirta pengentas.  Tirta Pengentas: Pe = pegat, ngen = ngen-ngen = trena, tas = hangus. Tirta Pengentas untuk memutuskan dan menghilangkan Tresna agar kembali kepada kekuatan amertha yaitu ke Siwa Merta.
Sedangkan tirtha Siwa dan Buddha adlh tirtha atau air suci yg telah didoakan oleh sulinggih (pendeta siwa) dan pendeta buddha.

Pelebon

Dalam beberapa buku yg pernah saya baca yang membahas tentang alam kematian sperti “The Tibetan Book Of Dead”, buku Many Lives Many Masters – Brian Weiss, MD , menceritakan setelah orang dinyatakan meninggal yg mati hanya tubuh fisiknya sedangkan roh/jiwa/atman yang meninggal akan tetap hidup dan akan melanjutkan perjalanan di alam antara atau sering disebut alam bardo.

Di alam antara ini sang roh diceritakan melakukan perjalanan dan bagi yg belum mengenal jalan spiritual akan rawan tersesat, kebingungan dan ketakutan. Dalam keadaan seperti ini sang roh yang kebingungan ini sangat diperlukan guru penuntun atau pembimbing, sehingga sang roh tidak tersesat, bebas dari ketakutan dan kebingungan serta bisa dengan damai memasuki kehidupan baru di alam antara yaitu alam  “antara” kelahiran terdahulu dan kelahiran berikutnya.

cerita-kehidupan-di-alam-antara

Dan guru penuntun disini adalah sosok Siwa dan Buddha melalui percikan tirtha siwa buddha. Dewa Siwa dipercaya oleh umat hindu sebagai betara guru alias dewa yg menerangi kegelapan pikiran dan simbol kesadaran murni (pure conciousness) dan Buddha sebagai simbol belas kasih yang tak berhingga. Sehingga dalam berbagai buku atau kitab suci berbagai agama sering disarankan untuk selalu mengingat Tuhan, misalnya melalui menyebut nama suci Dewa atau sosok yang disembah, dalam Hindu misalnya dengan mengucapkan mantra “Om Nama Shiva Ya”, atau yang menyembah sosok Buddha dengan “Om Nama Buddha Ya”, atau dengan “Hare Krishna” atau sosok apapun yang dianggap sebagai guru penuntun bagi kita, sehingga dalam alam kematian kita tidak bingung dan tersesat melainkan akan dituntun oleh beliau.

Dari sini saya tetegun, ternyata para leluhur tetua bali begitu banyak menyelipkan nilai filosofis luhur yg diwujudkan dlm ritual upacara hindu di Bali.

Pertanyaan apakah kita punya keinginan untuk mempertanyakan makna di setiap ritual upacara dan kemudian mencari tahu maknanya, atau  berhenti bertanya dgn alasan Nak mule keto?