Tag

, , , , , ,

rabindranatah tagore

Rabindranath Tagore

Betapa bodohnya saya!, saya bersusah payah mencari definisi tentang keindahan dalam buku yang tebal, dan keindahan itu ternyata telah menunggu saya diluar, dan mengetuk-ngetuk pintu saya.Saya bersusah payah mencari tahu tentang keindahan, berbekal cahaya lilin yang redup telah menghalangi saya menyadari cahaya bulan purnama yang indah menunggu diluar.

Ada kalanya dalam kehidupan ini ada hal yang bisa dijelaskan alias didefinisikan dalam kata-kata dan ada juga hal yang hanya bisa diketahui dengan mengalami langsung (experienced). Saya pernah membaca cerita yang sangat menarik yang bisa mewakili perbedaan antara hal-hal yang bisa dijelaskan melalui definisi dan hal-hal apa yang hanya bisa diketahui dengan mengalaminya langsung..

Rabindranath Tagore, salah satu penyair terbesar dunia, sangat senang tinggal dalam sebuah perahu yang dijadikan rumahnya. Dia terbiasa untuk tinggal disana berbulan bulan dalam rumah kecil diatas perahu tersebut. Pada suatu malam bulan purnama dia sedang membaca sebuah buku tentang estetika yang membahas tentang apa itu keindahan.

Saat itu adalah malam dengan bulan purnama, suara burung memanggil dari kejauhan, cahaya bulan purnama memantul diatas air danau yang tenang dan seluruh permukaan danau yang terkena cahaya bulan purnama terlihat seperti permadani yang berwarana perak. Malam ini sangat malam yang sangat sunyi, tidak ada seorangpun disekitar sana kecuali suara burung dikejauhan. Sesekali burung-burung terbang melintas diatas perahu, dan ikan meloncat- loncat dalam danau dan suara gemericik air akibat loncatan ikan itu semakin menambah hening suasana malam itu. Dan Rabindranath Tagore sibuk membaca sebuah buku estetika tebal untuk mencari definisi yang pas yang membahas tentang apa itu keindahan.

Lelah, dan capek mencari definisi pada buku yang tebal itu akhirnya pada saat tengah malam memutuskan untuk menyudahi membaca buku kemudian dia meniup lilin …setelah lilin mati kemudian dia terkejut dan terkesima. Ketika cahaya lilin yang redup mati, cahaya bulan purnama terlihat jelas masuk ke dalam kabin melalui jendela dan pintu, ternyata cahaya redup dari lilin itu yang menghalangi saya untuk menyadari cahaya bulan yang sangat indah. Tiba tiba saja terdengar suara burung dari kejauhan,dan dia menjadi sadar akan keheningan malam itu, keheningan yang sangat dalam. Mendengar suara gemericik air tatkala ikan melompat kemudian dia keluar dan terkesima akan keindahan malam bulan purnama tsb. Cahaya bulan purnama yang lembut tidak menyilaukan, langit dengan beberapa awan putihnya, pemandangan air danau berwarna perak memantulkan cahaya bulan purnama dan suara burung yang memanggil di kejauhan membawa dia kepada dunia yang lain…

perahu-dan-bulan

Kemudian dalam buku diarynya dia menulis,” Betapa bodohnya saya!, saya bersusah payah mencari definisi tentang keindahan dalam buku yang tebal, dan keindahan itu ternyata telah menunggu saya diluar, dan mengetuk-ngetuk pintu saya.Saya bersusah payah mencari tahu tentang keindahan, berbekal cahaya lilin yang redup telah menghalangi saya menyadari cahaya bulan purnama yang indah menunggu diluar.”

Rabindranath Tagore menulis dalam buku hariannya, “ Cahaya redup dari lilin ini ibarat ego saya, membuat saya kecil (terbatas) sehingga yang membuat Tuhan itu terasa jauh,  ego yang membuat saya kecil dan terbatas seperti cahaya redup dari lilin yang menghalangi saya melihat cahaya bulan purnama yang begitu indah mengagumkan. Dan ternyata dia telah menunggu saya diluar. Yang saya perlukan hanya menutup buku, meniup cahaya redup lilin ( ego) kemudian keluar  melihat langsung dan mengalamiNya…